Politik Identitas, Antara Nasionalisme Dan Agama

Semarang - 

Forum Pemuda Mandiri Karya gelar Seminar Politik Identitas: Antara Nasionalisme dan Agama. Acara sebagai respon dari masyarakat terkait persoalan pandangan politik yang menyangkut identitas.

Ketua Forum Pemuda Mandiri Karya , Muhammad Amri mengatakan, seminar politik identitas ini bertujuan agar masyarakat lebih paham betapa urgensinya politik identitas, menurutnya perlu adanya pemahaman secara meluas kepada masyarakat khususnya Jateng dalam mengkaji apa itu politik identitas dan apa itu agama serta negara.

“Ini sangatlah sensitif sejak peristiwa pencapresan di tahun 2019 lalu. Kita berharap dengan adanya seminar ini dapat memunculkan ide gagasan baru dalam meredam perpecahan yang timbul sebab politik tersebut,” kata Amri melalui pesan tertulis yang diterima Senin (12/12/2022)

Amri menambahkan, terkait munculnya persoalan pandangan politik menyangkut identitas, artinya harus mengkaji lebih dalam lagi mengenai pemahaman politik.

“Bias ini akan berujung kepada perpecahan di masyarakat jika tidak dipahami. Dalam tahun-tahun terakhir mendekati tahun politik akan banyak sekali isu yang bertebaran, politik identitas akan semakin menguat jika masyarakat tidak segera dipahamkan. Oleh karena itu pemberian pemahaman kepada masyarakat haruslah dilaksanakan dengan giat. Supaya politik identitas ini tidak memecah persaudaraan kita,” terangnya.

Acara seminar politik sendiri berlangsung di Taman Setambran Mijen-Semarang. Minggu ( 11/12/2022). Diikuti oleh 93 peserta dan Bagus Pamungkas dari Cyber Ansor Semarang didapuk sebagai pemantik dan aktivis sosial Budi Salman.

Bagus menuturkan, saat ini pertentangan antara identitas nasionalisme dan identitas agama semakin meruncing hingga menganggu stabilitas negara dan dapat memicu timbulnya perpecahan di masyarakat.

Ia mencontohkan kasus pada tahun-tahun sebelumnya ketika salah satu pasang calon menawarkan konsep antara agamis dan nasionalis. Ini membuat masyarakat harus memilih.

“Sebenarnya dua hal ini bukanlah pilihan ganda namun satu tarikan nafas. Jurang agama dan nasionalis itulah yang membuat seolah masyarakat terpecah menjadi dua,” ujarnya.

Sementara itu, Budi menambahkan, bahwa klaim agama selalu mengajarkan yang baik memang tidak bisa di pungkiri, akan tetapi harus juga disadari bahwa ternyata antara ajaran dan tindakan itu masih ada jarak yang cukup jauh karena beberapa kasus akhir-akhir ini identitas agama semakin menjadi nilai yang menggiurkan.

 

“Banyak sekali isu yang melempar agama demi keuntungan politik. Jangan sampai politik identitas ini memecah belah bangsa. Dengan adanya kebhinekaan ini diharapkan mampu meredam perpecahan politik di masyarakat,” tukasnya.

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.