Trump dan Kim Jong-Un Harus Tindak Lanjuti Pertemuannya Lebih Teknis

SWARASEMAR.COM | Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un di Singapura telah mencapai klimaks. Kedua pemimpin sudah mengeluarkan pernyataan bersama yang masih sangat umum. Oleh karenanya, Trump dan Kim sepakat untuk menindaklanjuti hasil pertemuan mereka dengan pembahasan yang lebih teknis. Melibatkan Menteri Luar Negeri AS dan pejabat tinggi dari Korut.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menyatakan masyarakat internasional perlu bersyukur pertemuan Trump-Kim berjalan positif dan memberi suatu harapan bagi perdamaian abadi di semenanjung Korea.

“Hanya saja Dunia tidak seharusnya larut dalam kegembiraan,” tulis Hikmahanto melalui keterangan tertulisnya.

Hikmahanto membeberkan masih ada sejumlah langkah yang harus dilakukan agar denuklirisasi Korut terwujud. Presiden Trump pun tidak sepantasnya merasa keluar sebagai pemenang perang usai pertemuan kemarin. Karena perilaku itu bisa memprovokasi Kim Jong Un, bahkan rakyat Korut, untuk bereaksi negatif dan berdampak pada perundingan teknis.

Selanjutnya yang menjadi tantangan adalah merumuskan kesepakatan yang lebih teknis. Semisal penarikan mundur tentara AS di Korea Selatan atau Jepang, seiring dengan program denuklirisasi Korut.

“Tentu masih banyak lagi isu-isu yang menjadi tantangan bagi tim teknis untuk dapat dirumuskan,” kata Hikmahanto.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memang menjadi hal bersejarah. Kim Jong Un sebagaimana diberitakan Antara, mengundang Trump untuk mengunjungi Korea Utara selama KTT bersejarah mereka, dan Presiden AS itu menerimanya. Laporan media pemerintah Pyongyang pada Rabu (13/6), menyebutnya sebagai awal dari “peralihan radikal” dalam hubungan dari bekas musuh di era Perang Dingin.

Terlepas dari keseriusan dan tindak lanjut penjabaran pertemuan AS-Korut, menurut Kepala Kantor Staf Presiden, peristiwa kemarin adalah momentum yang sangat bersejarah. Karena niat Presiden Kim menghentikan program nuklirnya harus dihargai.

“Bagi sebuah negara, yang perlu kita lihat adalah niatnya,” kata Moeldoko kepada wartawan, usai berbuka puasa di Jakarta, Rabu (13/6) sore.

Dalam hal politik luar negeri, menurutnya, niat sebuah negara adalah hal yang sangat perlu diperhitungkan. Misalnya, mengukur niat sebuah negara untuk menginvasi negara lain.

“Ketika mau berperang, niat itu yang perlu kita kenali,” kata purnawirawan jenderal TNI AD itu.

Ketika masih aktif menjadi Panglima TNI, ia pernah menghadiri pertemuan di AS. Pada kesempatan itu, dirinya diminta agar Indonesia turut aktif menjaga keseimbangan keamanan akibat aktivitas pengayaan nuklir di semenanjung Korea.

“Karena harus diakui, pengembangan senjata nuklir Korea Utara ini berimplikasi pada psikologis negara-negara tetangganya,” kata Moeldoko.

Setelah mengenali niat sebuah negara, sambung Moeldoko, langkah selanjutnya adalah komunikasi. Sebagai contoh, ia menceritakan tentang ketegangan yang pernah terjadi antara Indonesia dengan Malaysia dalam hal perbatasan di Kalimantan.

“Saya tetap segaris dengan pemerintah, bahwa Malaysia harus membongkar fasilitas mereka yang melanggar perbatasan,” kata Moeldoko. Akan tetapi, sikap tegas segaris itu juga punya embel-embel di belakangnya.

“Saya bilang sama panglima tentara Malaysia, bahwa kita tentara jangan ikut dalam permainan politik,” kata Moeldoko.

Hal itu juga yang ia sampaikan kepada pasukan Indonesia dan Malaysia yang berjaga di perbatasan. Meski di level pengambil kebijakan terjadi ketegangan, tentara tidak boleh ikut larut. Sebelum ada keputusan politik dari negara, menurutnya, tentara tidak boleh bertindak sendirian.

***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *