Masjid Kauman Semarang, Sebagai Masjid Tertua di Kota Semarang

SWARASEMAR.COM, Semarang | Masjid Agung Semarang atau yang akrab disebut Masjid Kauman Semarang, sebagai masjid tertua di kota Semarang- ibukota Jawa Tengah, memiliki sejarah yang panjang dan erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kota Semarang.

Masjid berada di Jl. Alun-alun Barat Nomor 11 Semarang. Masjid Agung Semarang letaknya tidak lagi berada dalam wilayah Kampung (Kelurahan) Kauman, tetapi masuk dalam wilayah Kelurahan Bangunharjo Semarang Tengah.

Masjid Kauman adalah rangkaian perkembangan dari sejarah pembangunan masjid di Semarang. Masjid pertama di Semarang ini dulu terletak di daerah mugas yang didirikan oleh Kyai Ageng Pandan Arang.

Pada waktu itu beliau hijrah ke kota Semarang, beliau mendirikan masjid sebagai tempat ibadah. Pembangunan masjid yang terletak di komplek alun-alun Semarang itu merupakan suatu masjid paling besar di Semarang yang akhirnya mengabadikan nama Kyai Adipati Surohadimenggola II sebagai pendiri pertama Masjid Besar Kauman Semarang.

Dibangun pada tahun 1170 Hijriah, berpepatan dengan tahun 1749 M. Inskripsi tersebut berbunyi seperti berikut :

“Tanda peringatan ketika kanjeng Tuan Nicoolass Hartingh, Gubernur serta Direktur tanah Jawa pada saat Kanjeng Kyai Adipati Suramanggala membangun hingga jadinya masjid ini pada tahun 1170 Hijrah”

Pendirian Masjid Besar Kauman Semarang ini, menjadikan Masjid Kauman Semarang sebagai masjid pertama di Jawa yang bercitra tradisional, namun menggunakan konstruksi modern. Karya demikian dikenal dengan sebutan arsitektur masjid modern tradisionalistik.

Keseluruhan masjid kauman ini mencirikan bangunan tradisional Jawa. Dengan atap limas besusun tiga yang mempunyai arti filosofi Iman, Islam, dan Ikhsan. Bentuknya seperti bangunan Majapahit, disokong 36 pilar. Tajug paling bawah menaungi tempat ibadah, tajug kedua lebih kecil, dan tajug tertinggi berbentuk limas. Limas tersebut berhias mustika, sementara pintunya dari rangkaian daun waru.

Bagian utama masjid, yaitu ruang salat, hanya diperbolehkan bagi muslim laki-laki. Di sini berdiri seperti singgasana nan megah, kursi mimbar tempat khotbah. Ukiran kayu mimbar ini tampak rumit. Lengkungan-lengkungannya indah. Pahatan halus menunjukkan kelenturan tangan berseni pembuatnya.

Menyambut bulan suci Ramadhan, biasanya terdapat tradisi prosesi pawai Dugderan. Pawai ini kini digabungkan kegiatannya bersama sama 3 masjid utama kota Semarang, yakni Masjid Agung Semarang atau lebih dikenal Masjid Kauman, Masjid Raya Baiturrahman Simpanglima, dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Masjid yang kini telah menjadi cagar budaya dan harus dilindungi menjadi kebanggaan warga Semarang karena bangunannya yang khas, mencaerminkan jati diri masyarakat pesisir yang lugas tetapi bersahaja.

***

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *