Politik Tagar Media Sosial Miliki Dua Mata Pisau

SWARASEMAR.COM, Jakarta |  Belakangan ini politik tanda pagar (Tagar) menjadi ruang kebebasan berpendapat dalam demokrasi. Pengamat Politik UIN, Gungun Heryanto menilai pertarungan hastag dan opini tak terhindarkan. Seluruh pihak akan melakukan hal itu untuk mempengaruhi pihak lain. Memilih kandidatnya dan tidak memilih kandidat lawan.

Perang hastag yang kini terjadi merupakan hal biasa.

“Begini ini sebenarnya adalah perubahan konteks politik yang dinamis. Tagar adalah ekspresi simbolik. Ada sebagian yang tertarik ganti presiden dan ada juga yang tidak,” ucap Gun Gun.

Pemakaian tagar memiliki nilai politis positif di era demokrasi. Hal ini dapat memantik partisipasi masyarakat agar tidak golput. Tak hanya itu kelebihan tagar adalah dapat menguntungkan relawan dalam mengarahkan massa.

“Bisa memacu semangat masyarakat dalam pemilu. Ditambah dengan ini murah meriah, mobilisasi luar biasa, sebenernya bisa menjadi ceruk yang sangat potensial, “ paparnya.

Walaupun memiliki berlipat keuntungan, politik tagar di media sosial memiliki dua mata pisau. Gun Gun mengimbau agar, parpol tidak menunggangi politik tagar untuk berkampanye lebih awal. Mencegah pula munculnya black propaganda, black campaign, character assasination, intimidasi dan persekusi.

“Di sini kita tidak hanya membutuhkan saling pemahaman. Namun juga harus melakukan tindakan berhati hati khususnya menyangkut aturan main. Ini belum masuk masa kampanye, maka harus ada komitmen diantara seluruh partai,” kata Gun Gun.

***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *