Krisis Kebocoran 50 Juta Data, Momentum Evaluasi Facebook

SWARASEMAR. COM, Jakarta | 50 juta data pengguna Facebook belum lama ini bocor akibat krisis yang mendera Facebook yang melibatkan Cambridge Analytica terkait upaya pemenangan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.

Hal itu disesalkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mengeluarkan sikap terkait krisis kebocoran data tersebut dalam rilisnya, SelasaA�(3/4/2018).

APJII menilai krisis yang mendera facebook itu seharusnya bisa menjadi momentum mengevaluasi Facebook sebagai media sosial terbesar di dunia.

Kebocoran data itu adalah momentum untuk mengevaluasi Facebook. Apalagi, Facebook juga tercatat sebagai pemilik Whatsapp dan Instagram. Sebaiknya ini juga jadi momentum kebangkitan media sosial Indonesia.

a�?Jangan sampai masyarakat Indonesia hanya jadi pengguna saja,” ujar Tedi Supardi Muslih, Bidang Hubungan Antar Lembaga dalam perbincangan dengan wartawan, di Jakarta.

Menurut Tedi,berdasarkan hasil survei lembaganya, jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun lalu telah mencapai 143,26 juta jiwa dari total 262 juta jiwa penduduk Indonesia.

Kebanyakan dari jumlah itu menggunakan internet untuk berinteraksi di media sosial.

Tedi memaparkan, bedasarkan hasil riset lembaganya pada 2017, pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia di sepanjang 2017 menunjukkan separuh pengguna teknologi internet adalah milenial (49,52%).

Menurut survei tersebut, pengguna teknologi internet bukan hanya dinikmati oleh yang berada di perkotaan. Bila dirunut berdasarkan wilayah, terungkap bahwa penetrasi pengguna internet terbesar ternyata ada di Pulau Kalimantan dengan penetrasi hingga 72%, jauh di atas Pulau Jawa yang hanya 58% populasi penduduk. Ini berarti, ada akses yang relatif sama bagi milenial di seluruh Indonesia.

Dengan jumlah pengguna internet sebanyak itu, Indonesia tercatat sebagai negara pengguna Facebook terbanyak ke-4 di dunia.

a�?Jadi, dengan potensi pelanggan sebanyak itu harusnya bisa muncul media sosial khas Indonesia, kita tidak hanya menjadi konsumen,” sambung Tedi yang juga pemilik dan pendiri PC24 Group.A�

Menurut Tedi, Indonesia sebaiknya bisa mencontoh China yang bisa melaju di dunia internet dengan media sosial khas negaranya, seperti Baidu, Weibo, dan Wechat.A�

Senada dengan Tedi, ahli digital forensik Rubi Alamsyah menanggapi kasus kebocoran data Facebook itu sebagai pembelajaran mengenai pentingnya kehati-hatian dan privasi di media sosial.

“Media sosial ini kita gunakan secara gratis, banyak manfaat yang kita dapat. Tapi sejak mendaftar dan instal, sering kali orang banyak yang lupa mengenai kehati-hatian membagikan data-data yang bersifat pribadi,” ujar Rubi.

“Di Amerika, kesadaran mengenai privasi sudah sangat tinggi. Berbeda dengan di Indonesia, kita masih sangat rendah. Kita menggunakan media sosial, seringkali kebablasan membagikan data yang bersifat pribadi secara sukarela, padahal itu penting,” tegas Rubi.

***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *