Edamame Kedelai Asal Jepang Manfaat & Potensi Besar Di Dalam Negeri

SWARASEMAR.COM | Edamame atau kedelai asal Jepang kini sudah kian populer di Indonesia sebagai camilan rebus terutama di resto-resto makanan Jepang. Apalagi tren hidup sehat yang gaungnya makin terdengar membuat kedelai jenis ini banyak dicari.

Berbeda dengan kacang polong, karena isian edamame seperti kacang kedelai, namun berwarna hijau. Di Indonesia kacang ini sering disebut dengan kacang kedelai dari Jepang, meskipun sebenarnya edamame berasal dari Tiongkok. Edamame mungkin terlihat seperti kacang biasa, tetapi kandungan protein di dalamnya jauh lebih banyak.

Edamame merupakan satu-satunya jenis sayuran di dunia yang memiliki 9 jenis asam amino esensial. Dalam satu porsi edamame juga mengandung 10% asupan harian zat besi dan vitamin C, 8% asupan harian vitamin A, dan 8,1 gram serat (lebih dari 4 lembar roti gandum). Satu porsi edamame hanya mengandung 189 kalori. Kacang edamame terasa manis dengan tekstur yang halus.

Terang saja, kedelai Jepang ini memiliki kandungan protein lengkap serta anti kolesterol yang baik dikonsumsi tubuh. Ukuran polongnya lebih lebih besar dibanding kedelai pada umumnya dan rasanya lebih manis serta bulu halus pada polong lebih sedikit.

Potensi pasarnya di dalam negeri maupun untuk ekspor masih terbuka lebar. Banyak pembudidaya tertarik membudidayakan tanaman polong-polongan ini. Salah satunya adalah Arif Marjuki asal Bogor, Jawa Barat. Dia mulai menekuni budidaya edamame sejak tahun 1994 dengan nama usahanya Artha Mitra.

Menurutnya, membudidayakan edamame tidak terlampau sulit, cukup secara rutin dirawat dengan penyiraman yang teratur serta penggunaan tanah subur untuk media tanam. Arif menanam edamame di lahan seluas 5.000 mA?.

Dia mengaku dapat menghasilkan panen 60 kga?�70 kg edamame basah dalam kurun waktu 70 hari dan 35 kg benih untuk pembudidayaan. Hasil panen dia jual kepada para pelanggan di Jakarta, Bandung, Surabaya & Bogor.

Pembudidaya edamame lainnya adalah Asep Hidayat asal Bandung, Jawa Barat. Dia mengaku sudah puluhan tahun membudidayakan aneka sayuran, termasuk kedelei edamame. Pria yang akrab disapa Hidayat ini membudidayakan edamame di lahan sekitar 5 ha di Lembang.

Harga jual sekitar Rp 14.000 per kg, dia bisa meraup omzet bisa mencapai sekitar Rp 40 juta sebulan.Pada musim kemarau seperti sekarang pasokan sedikit paling hanya 3 ton. Jika musim penghujan bisa dua kali lipat dari itu,” ujar Hidayat.

Edamame cocok tumbuh di tempat yang berudara sejuk. Dalam sebulan Hidayat mampu menghasilkan sekitar 1 ton sampai 3 ton edamame. Hasil panen dipasok ke pasar tradisional, supermarket hingga restoran-restoran di daerah Jawa Barat. Menurut Hidayat, edamame kini banyak dipesan oleh restoran-restoran yang menyajikan menu makanan Jepang. Karena ini merupakan salah satu bahan baku yang dibutuhkan dalam masakan mereka.

***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *