Pulau Sumba Menjadi Incaran Lokasi Pembuatan Film

SWARASEMAR.COM, Kupang | Kepala Bidang Promosi Wisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Eden Klakik, mengatakan Pulau Sumba menjadi incaran para produser film Tanah Air maupun mancanegara menjadi lokasi pembuatan film.

“Pesona alam Pulau Sumba dengan padang sabana yang cantik didukung kekayaan budaya dan megalitiknya membuat banyak produser film menyasarnya sebagai lokasi pembuatan film,” kata Eden Klakik di Kupang, Jumat (3/11).

Eden menyebut, pembuatan sejumlah film produksi dalam negeri yang berlokasi di Pulau Sumba seperti film Pendekar Tongkat Emas dan Susah Sinyal. Selain itu, lanjut Eden, pihaknya juga telah mendapat pemberitahuan dari produser film dari Inggris untuk pembuatan film yang berlokasi di Pulau Sumba dalam waktu dekat.

“Sekitar dua minggu lalu kami sudah mendapat informasi bahwa ada sekitar 63 aktor yang akan dibawa produser film dari Inggris untuk pembuatan film di Sumba,” katanya.

Ia menjelaskan, pihak produser film dari Inggris menyampaikan bahwa pembuatan film bertema “koboi” itu akan menggunakan kuda sundelwood sebagai ikon Pulau Sumba yang terkenal sebagai lumbung ternaknya Provinsi NTT itu.

Menurut Eden, Pulau Sumba memiliki berbagai potensi yang menarik seperti kekayaan alam, bahari, ternak, dan megalitik sehingga arus wisatawan domestik maupun mancanegara mulai tertarik untuk datang ke daerah itu baik untuk tujuan berwisata maupun untuk tujuan bisnis seperti pembuatan film. Berbagai potensi itulah, katanya, yang menjadi unggulan untuk dipromosikan pemerintah ke berbagai daerah dan belahan dunia untuk menarik minat kunjungan wisatawan.

“Contohnya potensi megalitik itu hanya ada dua tempat di dunia yakni di Spanyol dan di Sumba sehingga memiliki nilai jual tinggi yang kami promosikan sebagai salah satu objek pariwisata unggulan,” katanya.

Menurutnya, arus wisatawan ke Pulau Sumba terus meningkat dari waktu ke waktu yang didukung dengan pergelaran sejumlah event pariwisata yang telah menjadi branding seperti parade ribuan kuda sandelwood dan festival tenun ikat yang akan digelar secara berkelanjutan.

Ia mengatakan, sementara itu wisatawan yang berkunjung ke daerah itu mengungkapkan keinginan mereka untuk tinggal di homestay dengan alasan tidak hanya menikmati objek wisata semata melainkan ingin memperlajari budaya masyarakat setempat.

“Jadi potensi kearifan lokal itu sendiri telah menyimpan daya tarik bagi wisatawan, tinggal bagaimana potensi-potensi itu dipromosikan secara gencar untuk menarik minat wisatawan,” katanya. (ss)

***



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *