BTN Ajak Pengembang Daerah Pacu Pertumbuhan Bisnis Properti

SWARASEMAR.COM, Jakarta | Secara nasional, industri properti masih memiliki ruang yang besar untuk digarap secara bisnis untuk mendukung pertumbuhan perbankan. Apalagi, kontribusi bidang tersebut yang baru berkisar 2,5 persen hingga 2,8 persen terhadap PDB nasional.

Selain itu, bonus demografi Indonesia serta tingkat suku bunga acuan yang masih rendah membuat sektor properti masih potensial. Di Indonesia juga masih ada 11,38 juta kepala keluarga yang belum memiliki rumah (backlog kepemilikan) dan 6,09 juta kepala keluarga yang tinggal menumpang (backlog keterhunian).

Karena itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mengajak para pengembang di daerah untuk memacu pertumbuhan bisnis di Nusa Tenggara Timur (NTT) melihat potensi bisnis yang masih besar dan berbagai kebijakan pemerintah yang mendukung ekspansi, termasuk bisnis properti.

Kepala Ekonom Bank BTN Winang Budoyo mengatakan potensi bisnis di Kawasan Timur Indonesia (KTI) masih tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi di KTI mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi di banding kawasan lainnya. Per kuartal II/2017, ekonomi KTI tercatat tumbuh 3,14 persen atau naik 65 basis poin (bps) quater-on-quarter (qoq) dari 2,49 persen di kuartal sebelumnya.

Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi di Jawa pada kuartal II/2016 turun 27 bps qoq, Kalimantan turun 50 bps qoq, Sulawesi turun 35 bps qoq, Sumatera stabil, dan Maluku serta Papua tumbuh 48 bps qoq.

Winang menjelaskan secara sektoral, real estate baru menyumbang 2,58 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) NTT. Namun, pertumbuhan sektor real estate telah mencapai 5,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal II/2017 atau jauh melonjak dari pertumbuhan pada kuartal I/2016 yang hanya sebesar 2,94 persen.

Data dari Bank Indonesia (BI) menyebutkan lonjakan pertumbuhan tersebut disebabkan pembangunan perumahan di Kabupaten Manggarai Barat, Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Kupang dalam rangka program 3.000 unit rumah subsidi pada 2017.

a�?Momentum pertumbuhan di sektor real estate ini menjadi potensi untuk bisnis perumahan, terutama di NTT. Apalagi saat ini pemerintah sedang gencar membangun infrastruktur terutama jalan yang membuka akses lahan yang lebih besar.A�Pengembangan sektor properti pun sejalan dengan Program Satu Juta Rumah sehingga pemerintah memberikan berbagai bantuan subsidi pembiayaan agar masyarakat mudah memiliki rumah,a�? jelas Winang.

Menurut Winang, adanya berbagai kebijakan pemerintah yang memberikan stimulus untuk sektor properti pun menjadi peluang bisnis bagi para pengembang. Berbagai stimulus tersebut seperti relaksasi ketentuan loan to value atau financing to value (LTV/FTV) sejak Juni 2015.

Pemerintah pun berencana akan kembali memberikan stimulus untuk sektor properti melalui kebijakan LTV/FTV spasial atau berdasarkan wilayah.

a�?Relaksasi tersebut memiliki efek pengganda yang besar karena sektor properti terkait dengan hampir 170 sektor lainnya.”

Sementara itu, sejalan dengan pertumbuhan bisnis properti di NTT, Kantor Cabang Bank BTN di Kupang pun mencatatkan kenaikan positif kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kontruksi.

Per September 2017, KPR Bank BTN di Kupang tercatat naik 45,31 persen yoy dari 29,02 miliar rupiah di September

2016 menjadi 53,06 miliar rupiah. Kredit konstruksi Bank BTN di Kupang pun naik 60,49 persen yoy dari 65,02 miliar rupiah pada kuartal III/2016. (ss)

***



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *