Lebaran Ketupat, Tradisi Budaya Warisan Sunan Kalijaga

SWARASEMAR.COM | Ketupat sudah menjadi tradisi santapan di hari raya Idulfitri. Bahkan di hari lebaran ke-7 tradisi makan ketupat dinamakan lebaran ketupat.

Tradisi ini hanya ada di Indonesia, yang pada tahun ini akan dirayakan pada hari ini Minggu (2/7/2017).

Lantas, mulai kapan tradisi ini berlangsung. Konon, Sunan Kalijaga yang pertama kali memperkenalkan ketupat kepada masyarakat Jawa.

Pada waktu itu, Sunan Kalijaga membudayakan dua kali bakda (usai atau setelah), yaitu bakda Lebaran dan bakda kupat. Bakda tersebut dimulai seminggu sesudah Lebaran.

Ketupat sebagai simbol dihari Idul Fitri memiliki makna tertentu. Berdasarkan filosofi Jawa, yang turun temurun dijadikan pedoman sebagian masyarakat, ketupat memiliki makna khusus yakni kupat merupakan kependekan kata dari Ngaku Lepat yang artinya meminta maaf dan Laku Papat yang berarti empat tindakan.

Ngaku lepat atau meminta maaf di hari raya diimplementasikan bagi orang Jawa dengan tradisi sungkeman yang mengajarkan pentingnya menghormati orangtua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.

Adapaun laku papat atau empat tindakan tersebut yakni lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Lebaran artinya sudah usai, menandakan berakhirnya waktu puasa. Luberan, adalah meluber atau melimpah, yang dapat dimaknai ajakan bersedekah untuk kaum miskin. Sebagai salah satu contoh yakni pengeluaran zakat fitrah.

Sedangkan leburan, sudah habis dan melebur. Maksudnya dosa dan kesalahan akan melebur habis karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain.

Sementara laburan, kata tersebut berasal dari kata labur, melabur atau mengecat dengan kapur putih, sehingga hal tersebut dimaknai supaya manusia selalu menjaga kesucian lahir dan batinnya.[Red]

***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *