Peningkatan Sampah 50 Ton per Hari Selama Ramadhan di TPA Cipayung Depok

SWARASEMAR.COM, DEPOK | Volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Cipayung Kota Depok mengalami peningkatan. Peningkatannya mencapai 50 ton perhari selama Ramadan. Perilaku masyarakat yang semakin konsumtif dinilai turut menyumbang ‎peningkatan volume sampah tersebut.

Dalam kondisi normal, volume sampah yang‎ dibuang ke TPA Cipayung mencapai 650-700 ton setiap hari. Kini, volumenya melonjak kisaran 750 ton. Sampah-sampah itu banyak berasal dari pasar dan produksi rumah tangga.

“Sampah pasar dan rumah tangga yang (produksinya) naik,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis TPA Cipayung Iyay Gumilar saat dihubungi, Jumat 16 Juni 2017. Dengan jumlah 100 armada truk pengangkut, Iyay optimistis pihaknya masih bisa menangani lonjakan sampah tersebut. “Masih cukup paling ditambah ritase (perjalanan bolak balik),” ucap Iyay.

‎Sebagian truk, tuturnya, menambah satu rit pengangkutan sampah. Saat normal, truk hanya beroperasi dua rit perhari. Sekarang, beberapa truk beroperasi hingga tiga rit‎. Petugas pun harus menambah jam kerjanya selama Ramadan dan menjelang Lebaran. ‎Dari jam kerja 9 jam pada hari biasa, petugas sekarang bekerja hingga 11 jam. Menurut Iyay, para petugas tersebut dilemburkan agar persoalan lonjakan sampah teratasi. ‎”Kita ada lembur sampai malam takbiran,” ucapnya.

Sampah pasar membludak

Dia mengungkapkan, pasar-pasar di Depok‎ menjadi pemasok terbesar sampah ke TPA Cipayung. Produksi sampah, lanjutnya, membludak di Pasar Agung, Kemirimuka, Cisalak serta pasar lainnya. Untuk mengatasi persoalan tersebut, petugas juga melakukan penyisiran titik-titik sampah di pasar dan jalan-jalan protokol Depok. Petugas mengantisipasi pula lonjakan sampah pada malam takbiran.

Iyay menyatakan, pelayanan TPA Cipayung bakal dibuka dan berlangsung hingga malam hari saat momen takbiran. “Ngangkutnya sampai malam karena ada pasar tumpah,” tuturnya.

Iyay menambahkan, jenis sampah banyak bersumber dari sisa konsumsi masyarakat yang berpuasa. Gandrungnya masyarakat berbelanja tidak diimbangi pengelolaan sampah secara pribadi maupun di tingkat keluarga. Dia mencontohkan, kebiasaan berbuka puasa dengan makanan yang dibungkus kotak plastik atau styrofoam. Sisa bungkusan makanan itu tak terpakai lagi dan menambah beban petugas sampah yang mengangkutnya.

Jangan pakai kardus makanan

Iyay menghimbau masyarakat mengurangi produksi sampahnya. Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan agar sampah tak membludak. “Kalau barang masih bisa dipakai jangan dibuang. Kurangi penggunaan kardus/styrofoam,” tuturnya. Kebiasaan makan dalam kardus kemasan juga sebaiknya dikurangi. “Mendingan (makan) prasmanan,” kata Iyay

Jika berbelanja, masyarakat pun diminta membawa kantung atau tas penampung barang yang dibeli. Dengan cara itu, ketergantungan terhadap produk-produk penyumbang sampah semakin berkurang.

Iyay ikut mendorong masyarakat memilah sampahnya secara mandiri. ‎”Jangan langsung membuang tetapi memilah antara organik dan nonorganik,” ujarnya. Sampah yang terpilah itu diserahkan ke Unit Pengolahan Sampah (UPS) terdekat. Warga juga bisa mengolah sendiri sampahnya menjadi pupuk.

Berkurangnya sampah di tingkat rumah tangga bakal mengurangi beban TPA Cipayung. Seperti diketahui, kondisi TPA seluas 11 hektare tersebut mengalami over kapasitas karena membludaknya sampah.

***
|Artikel Asli dapat dibaca di pikiran-rakyat.com dengan judul,”Selama Ramadan, Volume Sampah ke TPA Cipayung Depok Naik 50 Ton“|


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *